Sejarah Desa

 Sejarah Singkat Lembang Pata’Padang

       

Lembang Pata’Padang merupakan salah satu Lembang dari wilayah pemerintahan administratif dari 5 lembang dan 1 kelurahan dalam wilayah Kecamatan Sanggalangi’. Lembang Pata’Padang adalah dulunya merupakan satu Dusun (Kampong) dari desa La’bo’ dengan nama Dusun Randanbatu. Randanbatu dalam pusaran sejarah Toraja, Randanbatu merupakan kampung tradisional dengan komunitas yang punya ikatan yang telah berakar dalam. Randanbatu dalam perkembangannya mempunyai kejadian-kejadian khusus diantaranya adalah sebagai berikut:

Perang dengan Bone (Untulak Buntunna Bone)

Dari semua rangkaian kontak dengan kekuatan luar, yang paling meninggalkan akibat yang mendasar adalah invasi bermotif balas dendam dari sahabat Pakila’ Allo. Meski perang itu menelan banyak korban baik orang maupun harta benda namun bagi “Tondok Toraya” sendiri meninggalkan nilai-nilai yang mulia. Terjadinya perang itu secara singkat dilukiskan seperti berikut:

Pakila’ Allo, seorang lelaki kelahiran Tambunan yang menikah dengan Bu’tu Bulaan asal Bokko. Mereka dikaruniai seorang anak namanya So’ Bu’tu.

Pakila’ Allo dikenal pemberani dan kebal (tidak mempan senjata api atau pedang) dan karena karakter dan kualitas demikian dia diangkat anak oleh Raja Bone dan mempunyai sahabat di Bone. Ketika kembali ke Toraja, Pakila’ Allo menunjukkan sikap sombong, tidak menghargai adat dan budaya, bahkan tidak menghargai lagi tua-tua adat. Tindak-tanduknya dilukiskan: “lurekke lusau’ untengkolullu’ aluk dipatuo balo’, ussenggong balatana sangka’ dipatumbu kumuku”. Kekerasan timbul setelah Pakila’ Allo membuat bendungan di Bolo’ dengan maksud menjadikan peternakan buaya. Buaya peliharaannya akan diberi makanan bayi laki-laki. Menghadapi rencana jahat Pakila’ Allo tersebut, timbul kesepakatan beberapa orang yaitu: Pong Kalua’ dari Randanbatu, Tumbang Datu dari Bokko, Pong Songgo di Limbu, dan Karasiak dari Madandan untuk menggagalkan rencana Pakila’ Allo dengan cara membunuhnya. Pelaksanaan pembunuhannya akan dilaksanakan pada acara pertemuan main judi (dadu). Dimalam sementara main judi, Karasiak mengayunkan pedangnya namun hanya mengenai dahi Pakila’ Allo. Dalam suasana panik tanpa penerangan, Pakila’ Allo turun ke kolong rumah yang terdapat tedong sokko ditambat, dan dengan menggunakan kerbau itu meloloskan diri. Versi lain menyebutkan pembunuhan Pakila’ Allo dengan menggunkan sumpit.

Gagalnya percobaan pembunuhan Pakila’ All, memunculkan gagasan dengan memakai ipo (racun). Karasiak membeli ipo dari baruppu’, kemudian membujuk Sandalele saudara kandung Pakila’ Allo, yang menikah dengan Pong Kalua’ untuk melaksanakan eksekusi. Pakila’ Allo sudah susah didekati karena curiga kepada orang lain sehingga dijatuhkan pilihan kepada Sandalele (saudara kandungnya).

Sandalele mengunjungi Pakila’ Allo yang sementara menantikan kesembuhan lukanya. Sambil meratap, Sandalele menyatakan kesedihan dan solidaritasnya atas kasus yang dialami saudaranya itu. Ketika akan pamit pulang, Sandalele minta untuk coba mengolesi obat yang dibawanya agar luka Pakila’ Allo cepat sembuh. Pakila’ Allo tidak mampu untuk menolak bujukan Sandalele dan berhasil mengoleskan ipo (racun) yang dibawanya. Pakila’ Allo kemudian meninggal dunia karena ipo yang dioleskan pada lukanya yang sudah hampir sembuh.

Misi Sandalele membunuh Pakila’ Allo dengan menggunakan medium racun (ipo), berarti target politiknya tercapai, namun dari segi moral dan adat istiadat Toraja, tidak dapat dibenarkan. Kelak kasus ini dianggap aib-budaya, sehingga dicoba ditebus dengan upacara ma’bua’.

Kekawatiran kematian Pakila’ Allo akan meninggalkan dendam kesumat turun temurun, malahirkan rencana untuk menghilangkan (membunuh) putra satu-satunya, yaitu So’ Bu’tu. Proses pembunuhan So’Bu’tu sederhana dan terkesan kecelakaan karena beliau dijatuhi timbo (bumbung penadah nira) dari pohon enau, saat bersama orang lainbercengkerama di pangkal pohon enau menanti turunnya nira (tuak). Hal demikian biasa dilakukan orang Toraja, datang meminta atau membeli tuak ke pohon yang sedang disadap.

Upacara penguburan Pakila’ Allo dilakukan di tongkonan Pong Bira’ Langi’ di Bokko, tongkonan pihak istrinya dan mayatnya dimasukkan ke dalam liang keluarganya di Bokko. Cara penguburan demikian tidak biasa di Toraja, karena setiap keluarga besar memiliki tongkonan dan liang keluarga. Setiap orang sebaiknya apabila meninggal diupacarakan ditongkonan asalnya dan dikuburkan di liang keluarganya. Karena prinsip demikian, mayat Pakila’ Allo dan So’ Bu’tu dipindahkan ke Tambunan (kampung asalnya) dan dibaringkan dalam erong bersama kerangka anaknya (So’ Bu’tu) dipemakaman Bamba Meaa di Tambunan.

Dalam kesedihannya setelah menjanda dan kehilangan anaknya, Bu’tu Bulaan tidak dapat meminta solidaritas dan bantuan familinya, karena masyarakat secara keseluruhan mencela tindak-tanduk Pakila’ Allodi tahun-tahun terakhir hidupnya. Masyarakat manganggap nasib yang menimpa Pakila’ Allo akibat ulahnya sendiri yang menimbulkan keresahan dan ketakutan dan mengancam sendi-sendi moral dan nilai-nilai kemanusiaan. Bu’tu Bulaan akhirnya mencoba menghubungi rekan-rekan dan kenalan Pakila’ Allo dilingkungan kerajaan Bone. Beliau berangkat ke Bone menemui rekan-rekan Pakila’ Allo, dengan mengeluhkan nasibnya (untoke’ buntu mallona). Aru (Arung) Pute terkesan dengan keluhan Bu’tu Bulaan, sambil spontan menjanjikan tindakan solidaritas dan akan mengerahkan pasukannya ‘undaka’ ulli’ kebulunna Pakila’ Allo. Bu’tu Bulan kembali dari Bone dengan menginformasikan bahwa kawan-kawan Pakila’ Allo dari Bone akan menuntut balas atas kematian Pakila’ Allo.

Memperhatikan tanda-tanda akan datangnya invasi Kerajaan Bone, beberapa orang yang terlibat dalam pembunuhan Pakila’ Allo, mengambil inisiatif menyelenggarakan pertemuan besar (kombongan kalua’) di Sarira. Ada informasi bahwa karena mendesaknya situasi, pertemuan yang diselenggarakan di Sarira itu dihadiri oleh sekitar 70 (tujuh puluh) orang pemuka dari tiap-tiap kampung di Toraja. Pokok utama agenda pertemuan adalah tentang bahaya yang mengancam dari kemungkinan invasi Bone. Diskusi menghasilkan visi yang sama tentang pentingnya memelihara martabat Toraja yang terancam eksistensinya sebagai suku bangsa yang merdeka. Kesadaran demikian melahirkan misi dan tekad bersama yang tercermin dalam semboyan dan sumpah bersama: “misa’ kada dipotuo, pantan kada dipomate”, atau bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Pertemuan di Sarira diprakarsai oleh 7 (tujuh) orang yaitu      Pong Kalua’, Patana’, Sarongkila’, Tumbang Datu, Pong Songgo i Limbu, Karasiak, dan Ne’ Sanda Kada. Pertemuan di Sarira ini kemudian disebut “To Pada Tindo”, yang merumuskan semboyan Misa’Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate, atau biasa disebut Bassena To Pada Tindo.

Pasukan Arung Palakka memasuki daerah Toraja, sambil membakar kampung-kampung yang dilalui. Kampung Tambunan, Mangape dan Randanbatu turut dibakar mereka. Satu palo-palo pasukan Arung Palakka berkubu di Rante Tengnge’ Randanbatu. Logidtik, bahan makanan dan minuman mereka dirampas dari penduduk setempat.

To Pada Tindo segera mengintensifkan persiapan dengan mengabarkan ke seluruh kampung di Toraja untuk segera menyusun kekuatan untuk konfrontasi dengan pasukan Arung Palakka, sambil merinci taktik-taktik yang akan dilakukan, antara lain dengan mendirikan empat tiang yang diisi damar yang akan berfungsi sebagai sinyal dimulainya penyerangan bila sudah melihat sinar dari empat tiang api itu. Ada empat tiang api masing-masin satu di Sesean, satu di Sado’ko’, satu di Manggayo, dan satu lagi di Gassing.

Beberapa hari sebelum hari H, di Randanbatu diselenggarakan PASA’BONGI, TAMMUAN DIPAMALILLIN, semacam pasar malam. Maksudnya dari Pasa’ Bongi, agar orang bisa berkomunikasi secara santai dengan tawar-menawar beberapa bahan keperluan, misalnya menawarkan ayam kepada pendatang atau bahan konsumsi lainnya. Diharapkan suasana demikian akan mengurangi kewaspadaan pasukan Arung Palakka.

Pada hari H yang telah ditetapkan jam D akan dimulai pada waktu tiang api mulai menyala di Manggayo, demikian juga tiang-tiang api di tiga tempat lainnya.

Serangan dadakan yang dilancarkan pada hari H dan Jam D, mengutamakan sasaran serempak pada personel pasukan Arung Palakka, melepaskan kuda-kuda mereka dari tambatannya sambil mengusir menjauh dari perkuburan, serta membakar barak-barak dan bahan konsumsi pasukan Arung Palakka. Tentu jatuh korban dikedua belah pihak, tetapi secara keseluruhan lebih parah pasukan Arung Palakka yang banyak kehilangan kuda tunggangannya ketika waktunya mengundurkan diri. Kunci keberhasilan memukul mundur pasukan agressor terletak pada aksi dadakan yang kurang diduga mereka. Sebenarnya persenjataan mereka lebih baik dan lebih berpengalaman bertempur,tetapi kelengahan mereka telah dimanfaatkan dengan baik oleh pejuang To Pada Tindo. Pasukan Arung Palakka mundur dari Toraja dengan tidak berhasil menaklukkan Toraja malah melahirkan dendam baru antar Lepongan Bulan dengan Kerajaan Bone.

Surasan Tallang di Manggayo

Setelah mundurnya pasukan Arung Palakka ke Bone dan setelah akta perdamaian (Basse sanglentenan tallo’, panda sangsorongan pindan), maka Pong Kalua’, sebagai primus interpares To Pada Tindo, menyelenggarakan ritus Massura’ Tallang = Mengukir Bambu bertempat di Manggayo, salah satu tempat menyalakan obor tanda saat dimulainya penyerangan kepada kubu pertahanan pasukan Arung Palakka. Massura’ Tallang intinya adalah pengucapan syukur karena keberkatan.

Dengan berakhirnya perang To Pada Tindo dengan kerajaan Bone, masyarakat menghargai jasa-jasa pejuang yang telah mempertahankan kemerdekaan dan integritas Sang Torayan. Masyarakat Toraja menempatkan keberanian dan kesediaan berkorban bagi masyarakat umum sebagai nilai yang tinggi (mulia). Karena itu To Pada Tindo,meski sudah lama meninggal, masih tetap disebut dan memperoleh bagian bila ada upacara penguburan tingkat upacara besar (dirapai’), acara tersebut dikenal dengan Mantaa Padang.     

Struktur Pemerintahan dan Pejabat Adat Randanbatu Tahun 1950

Kepala Kampung Kalebu’ (Gabungan Randanbatu dan Tambunan dijabat

oleh P.M. Mabadi’.

Pejabat Adat     Toparengnge’ Tallung Lanta’ di jabat oleh So’ Rimpan

Toparengnge’ Buntu di jabat oleh So’ Betu’

Toparengnge’Sura’ di jabat oleh Tato’ Nanna’

Toparengnge’ Batu di jabat oleh Pong Makassa’

Toparengnge’ Pararra’/Patuanan di jabat oleh

Sampe Tondok

Toparengnge’ To Sampean di jabat oleh So’ Mambaya

Toparengnge’ Ne’ Korre di jabat oleh Pong Pakkun

Toparengnge’ Galampang di jabat oleh So’ Pinton

To Bara’ di jabat oleh Ne’ Liki

Tominaa di jabat oleh Pong Kanda

To Mebalun di jabat oleh So’ Dondan

 

            Seiring dengan perkembangannya, pada Tahun 1987 Kampong Randanbatu mengalami perubahan yaitu: 

Sama halnya dengan semua Lembang dan Kelurahan di Kecamatan Sanggalangi’, Lembang Pata’Padang adalah dulunya merupakan satu Dusun (Kampong) dari Desa La’bo’ dengan nama Kampong Randanbatu.

Seiring dengan perkembangan wilayah dan pertumbuhan penduduk, maka Desa La’bo’ dimekarkan menjadi beberapa Desa dan salah satunya adalah Desa Pata’Padang yang terdiri dari 2 (dua) dusun yaitu Dusun Randanbatu dan Dusun Tambunan. Berikut beberapa kepemimpinan Lembang Pata’Padang yang telah terjadi yaitu:

Pada bulan Juli tahun 1987 terbentuk Desa Persiapan Pata’Padang defenitif dengan Kepala Desa Bapak Y. Pasari untuk pertama kali dilaksanakan pemilihan langsung Kepala Desa sampai periode 1992.

Pada tahun 1992 diadakan lagi Pemilihan langsung Kepala Desa oleh masyarakat dan masih terpilih Bapak Y. Pasari sampai tahun 1997.

Pada tahun 1997 diadakan lagi Pemilihan Kepala Desa oleh masyarakat dan yang terpilih Bapak Barumbun Sarungallo sampai tahun 2002.

Tahun 2002 diadakan lagi Pemilihan Kepala Desa yang kemudian sudah disebut Kepala Lembang dan yang terpilih menjadi Kepala Lembang adalah Kassa’ Ranteallo.

Pada tahun 2005 Lembang Pata’Padang dimekarkan kembali yaitu Lembang Tallung Penanian yang selanjutnya dipimpin oleh Bapak Kassa’ Ranteallo, sedangkan Lembang Pata’Padang dijabat oleh Bapak Barumbun Sarungallo sampai tahun 2007.

Pada tahun 2007, diadakan Pemilihan Kepala Lembang Pata’Padang untuk Periode tahun 2007-2013, dan Bapak Barumbun Sarungallo terpilih menjadi Kepala Lembang. Pada periode kepemimpinan ini, Lembang Pata’Padang yang dulunya hanya 1(satu) Dusun yaitu Dusun Randanbatu dimekarkan menjadi 3 (tiga) Dusun atau Kampong yaitu:

  1. Kampong Randanbatu
  2. Kampong Mengguliling
  3. Kampong Buntualang

Bapak Barumbun Sarungallo berakhir masa jabatannya pada tanggal 20 September 2013, menjelang proses pemilihan Kepala Lembang, kemudian diganti oleh Bapak Rufinus Sa’bi Tandioga, S.IP selaku Pejabat Kepala Lembang Pata’Padang sampai tanggal 23 Oktober 2013.

Pada tanggal 7 Oktober 2013 diadakan Pemilihan Kepala Lembang dan yang terpilih adalah Bapak Martinus Tuppang dan kemudian dilantik pada tanggal 24 Oktober 2013 oleh Bupati Toraja Utara sebagai Kepala Lembang Pata’Padang Periode 2013 – 2019.